Home>>Article>>Mengoptimalkan Potensi Lamtoro Sebagai Bahan Pakan Sapi
Article

Mengoptimalkan Potensi Lamtoro Sebagai Bahan Pakan Sapi

Kamis, 6 Agustus 2020, Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) kembali menyelenggarakan seminar online bertajuk “Pengelolaan dan Optimalisasi Pemakaian Lamtoro pada Sapi.”

Dalam kegiatan tersebut dihadirkan narasumber peneliti BPTP Balitbangtan NTB, Dr Tanda S. Panjaitan. Dalam paparannya ia mengingatkan tentang penggunaan lamtoro pada pakan ruminansia yang harus dilakukan dengan hati-hati karena terdapat zat antinutrisi pada lamtoro, yakni mimosin.

“Di dalam rumen sapi senyawa mimosin akan dikonversi menjadi 3,4 dan 2,3 dihydroxy-pyridine (DHP). Keracunan mimosin atau DHP tersebut dapat menyebabkan ternak mengalami pembesaran kelenjar tiroid, dengan gejala terjadinya penurunan nafsu makan, bulu kusam, berdiri dan rontok. DHP juga menyebabkan terjadinya defisiensi mineral, khusus besi, tembaga, dan magnesium,” ujar Tanda.

Lamtoro sendiri merupakan sejenis perdu dari suku Fabaceae dan termasuk salah satu jenis polong-polongan serbaguna yang paling banyak ditanam dalam pola tanam campuran. Sejak lama lamtoro telah dimanfaatkan sebagai pohon peneduh, pencegah erosi, sumber kayu bakar dan pakan ternak. Daun dan ranting muda lamtoro dapat menjadi pakan ternak dan sumber protein yang baik, khususnya bagi ruminansia. Daun lamtoro memiliki tingkat ketercernaan 60-70% pada ruminansia, tertinggi diantara jenis-jenis polong-polongan dan hijauan pakan ternak tropis lainnya.

Oleh karenanya, Tanda menyarankan untuk pemberian lamtoro pada sapi dilakukan dengan cara bertahap. “Pemberian lamtoro sebagai pakan pada ternak yang belum terekspos harus dilakukan secara bertahap,” katanya.

Ia juga menambahkan, adaptasi terhadap pakan lamtoro normalnya 2-3 minggu, dengan pemberian pertama biasanya sekitar 20% dari total pakan atau 0,5% dari berat badan. Namun kadangkala ada ternak yang butuh waktu adaptasi lebih lama sampai 6 minggu baru normal.

“Pemberian 40-60% dari total pakan dan sisanya rumput atau tebon jagung, hasilnya sama dengan yang diberikan 100%. Sehingga untuk pemberian pakan dari lamtoro cukup 40-60% saja, untuk menghemat lamtoro,” ucap dia.

Ternak yang sudah beradaptasi dengan pakan dari lamtoro dapat mengonsumsinya hingga 100%, namun disarankan untuk dilakukan pemberian mineral pada ternak yang diberi pakan lamtoro pada komposisi 70% atau lebih.

Dalam pemberian pakan, lamtoro bisa menjadi pakan utama ataupun pakan pelengkap. Pada peternak yang memiliki kebun lamtoro sendiri, maka lamtoro bisa menjadi pakan utama dengan pemberian 100% sebagai pakan tunggal, terutama di musim kemarau atau pada musim hujan.

“Pemberian 70% atau lebih bisa dicampur dengan rumput atau jerami jagung. Adapun peternak yang tidak memiliki kebun lamtoro sendiri maka komposisi lamtoro adalah 40-60%, dan selebihnya ditambahkan rumput (30-50%), serta dedak (10-30%),” jelasnya.

Pada pemberian pakan lengkap, formulasi umum yang dilakukan adalah lamtoro sebanyak 40-60%, rumput atau jerami jagung sebanyak 5-15% dan dedak atau jagung maupun ubi kayu sebanyak 40-60%. Pada formulasi tersebut, protein kasarnya 12-14% dan metabolisme energi sebesar 10-12 MJ/kg. Dengan pola pemberian pakan seperti itu, Tanda menandaskan, pertambahan berat badan harian ternak bisa mencapai 0,4-0,7 kg. (Sumber: Infovet)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *