Home>>Article>>Utilisasi Bungkil Inti Sawit Belum Optimal
Article

Utilisasi Bungkil Inti Sawit Belum Optimal

Asosiasi Ahli Nutrisi Indonesia (Aini) membedah bahan pakan yang belum diberdayakan secara optimal, yakni PKM (Palm Kernel Meal) atau biasa disebut dengan bungkil inti sawit.

Seminar daring hasil kerjasama Aini dan Ealnco Animal Health ini digelar pada Kamis (1/10), melalui aplikasi Zoom dan dihadiri 320 peserta. Ketua Aini, Nahrowi mengutarakan jika produksi bungkil inti sawit dalam negeri telah mencapai angka 6 juta ton per tahun. Angka ini sangat fantastis hingga menobatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah produksi bungkil inti sawit terbesar di dunia.

Namun, sayangnya 85 % dari jumlah tersebut rupanya dieskpor ke luar negeri. “Hal demikian terjadi karena memang penggunaan di Indonesia belum sepenuhnya maksimal,” ungkap Nahrowi. Selain PKM, Indonesia juga mengimpor bahan pakan lain yang jumlahnya cukup banyak. Bahan pakan tersebut adalah bungkil kedelai, feed wheat dan MBM (Meat Bone Meal) atau tepung tulang.

Guna mematangkan pemahaman mengenai PKM dan PKC (Palm Kernel Cake), salah satu peneliti di Balai Penelitian Ternak, Arnold Parlindungan Sinurat menjabarkan perbedaannya. PKM merupakan bungkil inti sawit yang diperoleh dari hasil sisa ekstrasi minyak dengan menggunakan pelarut kimia. Kandungan minyaknya tergolong rendah, yakni sekitar 2 % dengan kandungan protein 16 – 18 % yang juga dirasa rendah.

“PKC adalah bungkil inti sawit dari hasil sisa ekstrasi minyak dengan menggunakan tekanan atau pemerasan. Kandungan minyaknya terbukti lebih tinggi dibanding PKM, yaitu sekitar 8 %. Namun, ternyata jumlah proteinnya jauh lebih rendah dari PKM, hanya 14 – 16 % saja,” kata Arnold dalam kesempatan yang sama.

Ditambahkan Technical Manager Elanco Indonesia, Agus Prastowo jika perusahaan pakan rata-rata menggunakan 2 – 3 % PKM. “Diputuskan 2 – 3 % karena justru akan membuat imunomodulator dan sistem yang positif,” kata dia.

Berdasarkan berbagai penelitian yang telah dilakukan di banyak perguruan tinggi, bungkil inti sawit mengandung banyak nutrien bermanfaat. Adanya kandungan lain berupa betakaroten, vitamin A dan vitamin C yang cukup tinggi juga menambah nilai dari bungkil inti sawit.

Masih menurut Arnold, PKM dan PKC terbilang aman dicampur di dalam ransum karena tidak mengandung endogenous toksin. Namun, apabila PKM diberikan kepada kambing dan domba dengan persentase lebih dari 50 %, maka akan menyebabkan keracunan chronic Cu. Imbas yang paling parah, dapat menyebabkan kematian karena terjadi hepatic necrosis.

Lanjutnya, bungkil inti sawit memiliki antinutrisi dan kontaminasi di dalamnya. “Faktor anti nutrisi adalah senyawa kimia yang ada dalam bahan secara alami. Fungsinya, adalah sebagai penghambat atau inhibitor penyerapan nutrien seperti phytic acid, tannin acid, oxalate, NSP (Non Strach Polysaccharide) yang terdiri dari mannan, galactomannan, xylan dan arabinoxylan,” tambah Arnold.

NSP akan meningkatkan kekentalan isi usus, sehingga akan menghambat penyerapan nutrisi. Kemudian, NSP menyerap air lebih banyak di dalam usus. Ujungnya, volume air meningkat, tenak akan cepat merasa kenyang dan konsumsi pakan turun secara otomatis.

Batas Penggunaan di Ransum

Arnold katakan batas penggunaan bungkil inti sawit bervariasi, tergantung kualitas bungkil inti sawit yang dimiliki. PKC dapat diberikan dalam ransum ayam pedaging (broiler) sebanyak 10 %. PKC yang diberikan sebanyak 7,5 % dalam ransum sebagai pengganti jagung juga dapat meningkatkan FCR (Food Consumption Rasio). Terdapat beberapa penelitian yang menyatakan jika PKM atau PKC tidak dapat disubstitusikan dengan jagung. Namun, ada pula yang mengatakan bisa.

“Sebetulnya, berbeda-beda hasil penelitian yang kita dapatkan dari rekan-rekan peneliti. Ada yang mengatakan 12 % jagung bisa digantikan dengan PKM atau PKC, adapula yang mengatakan 50 %,” kilah dia.

Untuk rekomendasi ternak lainnya, PKC yang dapat diberikan adalah maksimal 10 % dalam ransum ayam petelur (layer), 25 % di dalam ransum ayam kampung yang sedang tumbuh, maksimal 15 % dalam ransum ayam ras breeding, maksimal 35 % dalam ransum itik petelur, dan maksimal 15 % dalam ransum entok grower atau dalam masa pertumbuhan.

Dalam pakan babi, penggunaan bungkil inti sawit hanya bisa digunakan maksimal 10 %. Dengan ini, sudah dapat dipastikan bahwa babi akan memiliki PBBH (Pertambahan Bobot Badan Harian) yang baik. Pemberian bungkil inti sawit juga akan meningkatkan tebal lemak punggung. Rekomendasi yang diberikan untuk pakan babi adalah 5 – 7 % untuk babi fase starter, 7 – 10 % untuk babi fase grower, dan 10 % pada babi fase finisher.

Di akhir paparannya, Arnold menyampaikan bahwa optimalisasi penggunaan bungkil inti sawit yang tepat adalah dengan teknologi penyaringan, biofermentasi, suplementasi enzim, dan gabungan teknologi yang telah disebutkan. “Saran saya, kita sangat perlu teknologi yang lebih baik untuk pengolahan bungkil inti sawit yang lebih baik,” tutupnya. (Sumber: Trobos)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *